Sabtu, 04 Februari 2012

KEPEMIMPINAN ALA NABI MUHAMMAD SAW Refleksi Maulid Nabi pada Musim Koruptor


Memasuki bulan Robi’ul Awal seluruh umat Islam dipenjuru dunia memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW (Maulidu Ar-Rasulullah). Dengan berbagai acara baik yang bernuansa agama maupun budaya. Tidak ketinggalan orang tua, pria-wanita, anak-anak semua larut dalam renungan dan pembacaan sejarah perjalan dakwah nabi yang dikemas dalam Kitab Al-Barjanji.
Sikap keteladanan nabi Muhammad SAW, banyak tergambar dalam rangkaian kitab-kitab Siroh Nabawiyah (sejarah kenabian). Nabi, satu sisi sebagai utusan yang harus menyebarkan serta mendakwahkan agama Islam, sisi lain nabi sebagai pemimpin negara di Madinah.
Pada masa nabi agama dan negara tidak mengalami berbincangan yang sangat sibuk dan ruet seperti yang disibukan kafilah-kafilah berjenggot dan berjubah untuk menentukan hubungan agama dan negara. Pada masa nabi agama dan negara mengalam integritas yang sangat romantis.
Sosok nabi sebagai pemimpin, juga sebagai rasul selalu mengedepankan kebijakan dan keteladanan dalam bersikap. Anggun dan senantiasa menghormati pengikutnya (rakyat). Setiap langkah, perkataan dan ketetapannya selalu menjadi dasar pengambilan hukum. Pengorbanan harta dan jiwa untuk membela dan mengembangkan agama Islam yang sangat balita pada waktu itu sebagai program kerja nomor wahid.
Manajemen kepemimpinan nabi terserat dalam Piagam Madinah. Kalau di Indonesia manajemen pemerintahan diatur dalam UUD 1945. Jadi tidak jauh beda pemerintahan pada masa nabi dengan pada masa sekarang. Yang membedakan hanya sikap pemimpin pada masa-masa sekarang yang semakin arogan.
Pemimpin pada masa sekarang disibukan dengan usaha memperkaya diri dan keluarganya. Pada masa nabi Muhammad SAW, kondisi ekonomi nabi yang lebih buruk dari pada rakyatnya. Begitu juga yang terjadi pada keluarga nabi. Sekarang non sent  kalau keluarga pemimpinan negara tidak bergelimpangan harta.
Negara bagaikan negara Autopilot, negara yang bisa berjalan sendiri tanpa adanya pemimpin. Pemimpin hanya sibuk dengan pencitraan diri (self image) dan politik dinasti (political dynasty.). Rakyat juga disibukan dengan mencari makan untuk keluarganya, kesejahteraannya bukan dipengaruhi kebijakan pemimpin akan tetapi dipengaruhi usaha dan doanya “sopo wahe pemimpine ne ora kerjo yo ra mbadok” (siapa saja pemimpinnya kalau tidak kerja tidak makan)
Begitu besar pengorbanan nabi Muhammad SAW kepada pengikutnya, ketika mau meninggal dunia dia berpesan kepada menantunya Ali bin Abi Thalib untuk menshadaqahkan sisa hartanya sebelum meninggal dunia.
Kalau pemimpin sekarang, menjelang kematian disibukan dengan menyelamatkan hartanya korupsinya ke bank luar negeri agar tidak tersentuh tangan KPK.
Memang tidak diragukan keberhasilan nabi Muhammad SAW dalam memimpin agama sebagai utusan (rasul) dan memimpin negera sebagai presiden (amir).  Kalau pemimpin sekarang belum ada hasil sudah rebutan mengkota-kotak hasil perjuangannya.
Bahkan tidak takut dan jelas-jelasan pemimpin sekarang menggrogoti hak dan harta rakyat untuk kepentingan pribadi dan partainya. Jelas dan gamblang berita media televisi maupun cetak yang sedang disibukan dengan meliput berita-berita korupsi anak negeri.
Negeri dijadikan pesugihan layaknya gunung Wilis yang ada di Jawa Timur yang didatangi para pencari pesugihan. Harta rakyat dikuras, haknya dihilangkan, kesetaraan dihanguskan, konflik dibiarkan dan ditertawakan bahkan diadu.
Semoga dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammmad SAW yang berbarengan dengan Musim Koruptor ini Indonesia menjadi lebih baik.
Wallahu a’lam bis shawab

Penulis: M. Supriyadi Alumni PP. Mansyaul Huda Sendang – Senori - Tuban

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar